Kepala Daerah Jadi Penentu Keberhasilan Turunkan Stunting, Pemerintah Umumkan Capaian Nasional 2024
Jakarta, terasbanggai.com— Pemerintah mengumumkan capaian penting dalam percepatan penurunan stunting nasional. Prevalensi stunting Indonesia pada 2024 turun menjadi 19,8 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah angka 20 persen. Namun pencapaian ini dinilai baru langkah awal, karena target besar menanti hingga 2029.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Stunting di Gedung Kemenkes, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penurunan angka stunting merupakan hasil kerja bersama lintas sektor, bukan hanya program kementerian kesehatan.
“Penanganan stunting itu tidak bisa dilakukan satu kementerian saja. Semua harus bergerak bersama, dari pusat sampai desa,” ujar Menkes Budi dalam rilis yang disiarkan Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kemenkes RI.
Budi menjelaskan dua intervensi kesehatan yang paling menentukan, yakni pemenuhan gizi ibu hamil untuk mencegah anemia dan pemberian protein hewani bagi balita usia 12–24 bulan, fase kritis terjadinya peningkatan stunting.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menekankan pentingnya data yang akurat dan pelaksanaan program yang disiplin agar intervensi lebih tepat sasaran.
Namun sorotan utama Rakornas kali ini datang dari Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, yang menegaskan bahwa kepala daerah adalah faktor kunci keberhasilan penurunan stunting.
“Peran kepala daerah itu kunci. Kepala daerah yang mendapatkan penghargaan adalah yang lincah berkolaborasi, dari preventif sampai kuratif. Kolaborasi dengan semua pihak harus terus diperkuat agar target 14 persen pada 2029 bisa dicapai,” ujarnya.
Ini mempertegas bahwa percepatan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pusat, tetapi sangat bergantung pada komitmen dan kepemimpinan daerah—mulai dari penguatan Posyandu, intervensi gizi, hingga koordinasi lintas OPD.

