Selasa, 13 Oktober 2026

Catatan Kritis: Direktur Baru RSUD Luwuk Jangan Hanya Ganti Orang, Harus Ganti Cara Kerja

Budi Sahari/Jurnalis

Pergantian direktur di RSUD Luwuk tidak boleh berhenti pada seremoni pergantian jabatan. Masyarakat menunggu perubahan nyata, bukan sekadar wajah baru di kursi pimpinan.

Pekerjaan rumah yang menumpuk sudah lama menjadi sorotan. Keluhan mengenai kebersihan kamar mandi yang dinilai tidak layak untuk fasilitas kesehatan, kondisi gedung yang semakin sesak, hingga pelayanan yang masih dianggap belum mencerminkan standar rumah sakit berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan biasa.


Status BLUD seharusnya menjadi jaminan lahirnya pelayanan yang cepat, profesional, efisien, dan berorientasi pada kepuasan pasien. Namun, jika keluhan masyarakat terus berulang tanpa perbaikan yang berarti, maka status tersebut kehilangan makna di mata publik.


Direktur baru, dr. Budi, memikul tanggung jawab besar untuk memutus rantai pembiaran. Pembenahan tidak cukup hanya dengan rapat, slogan, atau pencitraan.

Yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata: rumah sakit yang bersih, fasilitas yang manusiawi, sistem pelayanan yang tertib, serta budaya kerja yang menempatkan pasien sebagai prioritas utama.


Sudah saatnya RSUD Luwuk berhenti berpuas diri dengan rutinitas. Rumah sakit milik masyarakat harus berani berubah. Kritik publik jangan dianggap sebagai serangan, tetapi sebagai alarm bahwa pelayanan kesehatan masih membutuhkan pembenahan serius.


Masyarakat akan memberikan apresiasi jika perubahan benar-benar terlihat. Namun, jika persoalan yang sama terus dibiarkan, kepercayaan publik akan semakin terkikis. Kini saatnya membuktikan bahwa pergantian pimpinan benar-benar menjadi awal perubahan, bukan sekadar pergantian nama di papan jabatan.

Tutup
error: Content is protected !!